Image
Oleh : Administrator

Peluang Usaha Gedung Parkir

Jumat, 02-Desember-2016 01:24  |  Artikel  

investmedan.com – Jumlah kendaraan yang cukup banyak menjadi penyebab utama kemacetan di kota-kota besar di Indonesia tak terkecuali Medan. Menurut data BPS pada tahun 2012, tercatat sekitar 386 ribu kenderaan roda empat alias mobil di Medan dengan pertumbuhan rata-rata sebanyak 26,6 ribu mobil per tahun. Jika menggunakan proyeksi tersebut maka pada Tahun 2017 diperkirakan bisa mencapai 500 ribu unit. Katakanlah jumlah tersebut dikurangkan penyusutan kendaraan yang rusak dan yang dijual ke luar Kota Medan, tetap saja jumlahnya masih relatif besar untuk kota seluas 265 km2.

Banyaknya mobil yang digunakan warga tentu berdampak pada kemacetan. Salah satunya penyebabnya adalah jumlah mobil yang parkir pada badan jalan, sementara lebar jalan, terutama di wilayah inti kota, hampir dipastikan tidak akan bertambah. Mobil-mobil kerap memakan 3-4 meter badan jalan saat parkir sehingga mengurangi daya tampung kendaraan yang akan melintas. Pada jam-jam sibuk di kawasan sekolah dan perkantoran, parkir membludak, hasilnya kemacetan pun memuncak.

Dinas perhubungan telah melakukan beberapa upaya semisal pelarangan parkir berlapis atau pelarangan total untuk ruas tertentu diikuti pemberian sanksi penguncian roda. Meskipun demikian, tindakan tersebut dirasa tidak cukup efektif mengurangi parkir oleh sebab kebutuhan memarkirkan kenderaan memang harus dipenuhi apapun resikonya. Pengendara nyaris tidak diberi pilihan dimana memarkirkan mobilnya. Bagaimana bisa para karyawan bekerja dengan tidak memarkirkan kendaraannya, begitu juga pelajar atau orang yang mengantar jemput. Belum lagi di lokasi wisata, hiburan atau gedung pertemuan yang berada di tengah kota. Lebar jalanan di pusat kota juga telah terkunci gedung-gedung bersejarah dan pencakar langit yang hampir tak mungkin digeser lagi. Dengan kondisi saat ini yang dirasa masih jauh lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi umum, maka ruang untuk parkir memang haruslah dipenuhi sebab keputusan warga untuk mengendarai mobil pribadi tidak bisa dihempang.

Jika demikian, pokok permasalahan yang harus dipecahkan memang hanya dua: bagaimana membebaskan badan jalan dari parkir mobil dan pada saat yang sama menyediakan tempat parkir yang representatif. Harga tanah yang relatif mahal, terlebih di tengah kota, memaksa kita untuk memaksimalkan ruang yang terbatas, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah mengatur parkir secara vertikal. Oleh karena itu, gedung parkirlah jawabannya.

Pemasukan pendapatan dari jasa parkir tercatat cukup besar. Di pusat-pusat perbelanjaan di Medan saat ini tarif parkir jam pertama rata-rata 3000 rupiah dan jam berikutnya bervariasi dari 1000 hingga 2000 rupiah perjamnya. Di beberapa gedung mal yang menyediakan area parkir VIP senilai 25.000-35.000 rupiah, toh tetap penuh pada waktu-waktu laris. Mengapa? Karena hukum ekonomi selalu berlaku: permintaan tinggi dan penawaran terbatas.

Perhitungan biaya dan keuntungan mungkin bisa dihitung lebih rinci pada kesempatan yang lain, namun sekilas perhitungan yang pernah dibuat Arief Tri Setiaji, SE, seorang analis, dengan simulasi lokasi di Jakarta Pusat, penghasilan per tahun dari sebuah gedung parkir seluas 100.000 m2 bisa menembus angka 2,5 milyar rupiah. Pokok pikiran yang ingin diutarakan di sini ialah bahwa kebutuhan tempat parkir, kelancaran dan kerapian jalan umum termasuk tempat wisata di tengah kota adalah tuntutan yang telah mendesak, terlebih pada masa mendatang. Oleh karenanya sudah harus mulai dirancang sejak sekarang. Mengenai hitungan cost, break event point, hingga loss and profit, itu adalah tentang titik keseimbangan yang bisa didesain bersama oleh pemerintah dan investor. Sebab kalkulasinya terkait dengan pajak, retribusi dan regulasi. Hal yang terakhir menjadi sangat penting karena tanpa aturan yang tegas untuk pelarangan parkir maka sia-sialah investasi gedung perparkiran yang tentu berbiaya tinggi.

Aspek lain yang harus disiapkan secara bersamaan ketika menata parkir adalah pedestrian atau trotoar. Jalur khusus untuk pejalan kaki itu harus sudah siap untuk dilalui dengan nyaman dan aman ketika pengoperasian gedung perparkiran dimulai. Seperti yang sering kita lihat di mancanegara, dimana jumlah warga yang berjalan kaki di tengah kota cukup banyak. Sebagian berjalan dari dan menuju halte bis atau stasiun kereta, dan sebagian lagi berjalan dari dan menuju gedung parkir. Berjalan kaki sejauh 50 hingga 200 meter tidaklah membuat orang jatuh kelelahan, sebaliknya berdampak positif bagi kesehatan tubuh seperti jantung dan pembakaran lemak. Sudah sepatutnyalah warga yang berjalan kaki diberikan ruang yang nyaman dan aman dari resiko kecelakan dan kriminalitas.

Jika ekosistem telah dibangun sedemikian rupa, antara lain regulasi, pajak, retribusi, pedestrian, keamanan, dan pengawasan, maka gedung perpakiran menjadi pilihan investasi yang menarik karena menguntungkan. Menguntungkan pengusaha, menguntungkan pemerintah, dan menguntungkan masyarakat pengguna jalan raya. Jauh lebih menguntungkan bila dibandingkan bisnis penjualan dan penyewaan rumah pertokoan yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

 

Oleh: Bergman Siahaan (Kasubbid Data dan Informasi BPM Kota Medan)

ilustrasi: gedung parkir skylinescity.com